TSAoTSd7Gpr8TUz7TpriBUz6

Perseroda Lamataesso Hadirkan Wastra Khas ‘Lejja Ri Wanua Soppeng’

 


SOPPENG — Perseroda Lamataesso Mattappa menunjukkan bahwa pengelolaan potensi daerah tidak hanya berhenti pada pemanfaatan sumber daya alam semata. Sebagai pengelola Taman Wisata Alam (TWA) Lejja, Perseroda juga mengambil peran dalam mengangkat kekayaan budaya lokal sebagai identitas, memori kolektif, sekaligus aset kreatif daerah. 

Langkah itu diwujudkan melalui hadirnya wastra “Lejja Ri Wanua Soppeng” yang mengangkat lanskap alam dan nilai budaya Soppeng dalam satu karya.

Wastra tersebut hadir dalam bentuk motif batik cap yang menginterpretasikan kekayaan Lejja melalui perpaduan elemen pohon beringin ara, lanskap geothermal, sumber air alami, simbol kalong sebagai identitas Soppeng, hingga aksara Lontara bertuliskan “Lejja Ri Wanua Soppeng”. Seluruh elemen dipadukan dengan filosofi Sulapa Eppa sebagai simbol keseimbangan dalam budaya Bugis.

Karya ini dirancang oleh Hj Nurlela Buhari, owner Cantika Sabbena Soppeng, pelaku usaha kreatif asal Soppeng yang konsisten mengangkat wastra Bugis-Soppeng melalui pengembangan tekstil dan fesyen berbasis budaya lokal.

Di bawah kepemimpinannya, Cantika Sabbena berkembang dari usaha jahit menjadi brand wastra yang berfokus pada pelestarian motif khas Soppeng. Selain itu, Hj. Nurlela juga aktif mendorong pemberdayaan perempuan dan fesyen berkelanjutan dengan menjadikan Cantika Sabbena sebagai ruang penguatan ekonomi perempuan sekaligus pelestarian budaya melalui produk-produk etnik yang ramah lingkungan.

Plt Direktur Perseroda Lamataesso Mattappa, Musdar Asman, mengatakan kehadiran wastra tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas makna pengelolaan kawasan Lejja, tidak hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga ruang hidup budaya dan identitas lokal.

“Selama ini Lejja dikenal karena potensi wisata alam dan sumber air panasnya. Namun bagi kami, Lejja juga menyimpan nilai budaya, cerita, dan identitas yang perlu diangkat serta diwariskan. Karena itu, pengelolaan Lejja tidak boleh berhenti pada aspek sumber daya alam semata,” ujarnya.

Menurut Musdar, wastra Lejja Ri Wanua Soppeng menjadi medium untuk memperkuat hubungan antara kawasan Lejja dengan identitas budaya masyarakat Soppeng.

“Tujuan dari menghadirkan wastra ini adalah memperkuat nilai budaya yang hidup di Lejja sekaligus menjadikan kawasan tersebut tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan memori budaya dan identitas lokal,” jelasnya.

Ia menambahkan, penguatan nilai budaya tersebut juga menjadi bagian dari strategi membangun keberlanjutan kawasan melalui pendekatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

“Ketika alam Lejja diterjemahkan menjadi karya budaya, maka yang lahir bukan sekadar motif, tetapi identitas. Ini menjadi cara untuk menjaga memori, memperkuat kebanggaan daerah, sekaligus membuka ruang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal,” tambahnya.

Melalui Lejja Ri Wanua Soppeng, Perseroda Lamataesso Mattappa menegaskan perannya tidak hanya sebagai pengelola TWA Lejja, tetapi juga sebagai penggerak penguatan identitas dan pelestarian nilai budaya yang tumbuh dari kawasan tersebut.

Komentar0

Type above and press Enter to search.